Berikut ini ditampilkan beberapa tulisan dari siapapun dengan harapan semoga MANFAAT!

Februari 5, 2007

………………………………
Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari
rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.
Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.”
Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.”
Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut.
Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan
menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei,
kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!”
Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
**
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!”
Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta!
Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!”
Si buta tertegun…. Menyadari situasi itu,
penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang
‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang
buta.” Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa,
maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.” Dengan
tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita
yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan
masing-masing.
***
Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang
menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih
berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf,
apakah pelita saya padam?” Penabraknya menjawab, “Lho,
saya justru mau menanyakan hal yang sama.”
Senyap sejenak… secara berbarengan mereka bertanya,
“Apakah Anda orang buta?” Secara serempak pun mereka
menjawab, “Iya…,” sembari meledak dalam tawa. Mereka
pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita
mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.
***
Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan
malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang
mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa
mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul
pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu
membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan
dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat
jalan mereka.”
***
Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa
pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup.
Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi
kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).
Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi
……………, ………., ………, …….., dan
………. Selalu menunjuk ke ……………, tidak
sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah
……………. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar
menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang
dialaminya. Ia menjadi lebih …………….. karena
menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih
dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi ………….

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya,
yang ………………, yang ………….. Kadang,
mereka memilih untuk “……………” walaupun mereka bisa ”melihat”.
Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah
…………………….., yang sebetulnya ………………….

Apa JuDul yang TePaT dAri TuLiSan Di aTaS?

KuLImA-Kuliah Lima Menit
Titik-titik pada bacaan di atas dapat diisi atau dicocokan dengan bacaan berikut ini,tulisan ini adalah kiriman dari seorang teman dan semoga manfaat! Amiin!

………………………………
Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari
rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.
Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.”
Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.”
Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut.
Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan
menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei,
kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!”
Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
**
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!”
Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta!
Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!”
Si buta tertegun…. Menyadari situasi itu,
penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang
‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang
buta.” Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa,
maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.” Dengan
tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita
yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan
masing-masing.
***
Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang
menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih
berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf,
apakah pelita saya padam?” Penabraknya menjawab, “Lho,
saya justru mau menanyakan hal yang sama.”
Senyap sejenak… secara berbarengan mereka bertanya,
“Apakah Anda orang buta?” Secara serempak pun mereka
menjawab, “Iya…,” sembari meledak dalam tawa. Mereka
pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita
mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.
***
Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan
malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang
mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa
mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul
pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu
membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan
dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat
jalan mereka.”
***
Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa
pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup.
Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi
kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).
Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi
kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan
kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak
sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah
dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar
menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang
dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena
menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih
dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya,
yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang,
mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.
Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah
bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan

Entry Filed under: Pernak-Pernik. .

2 Comments Add your own

  • 1. dewianggraeni  |  Oktober 5, 2007 at 8:13 am

    Dengan membaca tulisan diatas… saya benar-benar seperti kembali pada hari kemarin, dimana hampir setiap hari mendengar dan menemukan suatu pelajaran besar. Trima kasih, seperti berada pada suatu kelas Biologi yang sarat makna bagi saya. sudah lama berlalu, dan saya dengar kembali kata-kata bijak yang mengingatkan akan pentingnya menghargai sebuah kehidupan…….
    dalam dunia saya sekarang, perlu usaha keras untuk mencari pelajaran2 berharga seperti itu, tapi itulah SEBUAH PERJUANGAN… SEBUAH JALAN PANJANG YANG TAK BERUJUNG……. DAN SAYA TIDAK AKAN PERNAH BERHENTI

  • 2. emje  |  Desember 31, 2007 at 4:55 am

    Salam kenal pak. Saya minta ijin nge-link-kan ke blog saya nggih?
    saya juga sedang belajar-belajar otak-atik blog. Kebetulan theme kita sama, semoga otak dan semangat saya bisa menyamai njenengan.
    Silahkan juga kunjungi blog saya di http://www.muji0n0.wordpress.com
    Thanks.

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

Februari 2007
S S R K J S M
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Most Recent Posts